whaT caN I dO to mAke u loVe mE…

May 13th, 2007 by haleem81

I haven’t slept at all in days

It’s been so long since we’ve talked

And I have been here many times

I just don’t know what I’m doing wrong

Love_500What can I do to make you love me

What can I do to make you care

What can I say to make you feel this

What can I do to get you there

There’s only so much I can take

And I just got to let it go

And who knows I might feel better

If I don’t try and I don’t hope

What can I do to make you love me

What can I do to make you care

What can I say to make you feel this

What can I do to get you there

No more waiting, No more aching

No more fighting, No more trying

Maybe there’s nothing more to say

And in a funny way I’m calm

Because the power is not mine

I’m just gonna let it fly


What can I do to make you love me

What can I do to make you care

What can I say to make you feel this

What can I do to get you there

Love me..

"the Corrs"

Episode Hidup

April 8th, 2007 by haleem81

1…2….3…
Action…!!!!
scene selanjutnya di mulai…
episode hidup baru  saja  dilakonkan..
tanpa ada skenario yang jelas..
Stagehanya mengandalkan waktu dan alur yang berjalan dengan sendirinya..
kan ku lalui semua episode-episode hidup ini..
semoga ku mampu
dan tak mudah menyerah atau putus asa…
dan semoga ku tak menghakimi tuhan atas segala yang terjadi…
karena hanyalah Dia sang Sutradara hidup ku..
ku serahkan segalanya pada Nya..
karena hanyalah Dia yang mampu menguatkan ku tuk
memasuki dan melalui episode-episode ini..

newly married

March 24th, 2007 by haleem81
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu 
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram 
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya 
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang 
berfikir." (QS. Ar-Ruum [30]: 21)


Fake_wedding_act_xixixixiBerawal dari bukan siapa-siapa

Masing2 kita adalah sosok asing

yang tak pernah singgah dipikiran bahkan hati

tuk jadi belahan jiwa kelak nanti..

sosokmu yang pendiam dan aku yang super rame

menjadikan kita sosok yang sangat jauh sejauh langit dan
bumi..

 

Tapi entah darimana itu bermula..

Ketika tuhan punya kuasa..

Disandingkanlah kita yang benar2 berbeda ini

Untuk saling melengkapi dan mewarnai segala perbedaan yang
ada

 

Bahaya Kebencian dan Kebahagiaan

March 15th, 2007 by haleem81

Images Cerita nya inspiring banget..patut untuk di sempatkan di baca..karena mungkin inlah yang sering kita lupakan..hingga malah membawa kita pada aura negatif dan keputusasaan dalam hidup…

"Tujuan tertinggi bukanlah menghindari kebencian dan mencapai
kebahagiaan. Tujuan tertinggi adalah mencapai kebebasan. Bebas dari
perangkap kebencian dan kebahagiaan. "
~Y.M. Sri Pannyavaro

Suatu sore saat saya sedang asyik menikmati musik di dalam mobil,
dalam perjalanan pulang dari kantor, tiba-tiba HP saya berdering.
Siapa yang menelpon saya? Ternyata seorang bapak, sebut saja Pak
Budi, yang ingin membuat janji bertemu untuk saya terapi.

Saat itu saya sedang sibuk sekali menyelesaikan satu proyek besar
sehingga untuk sementara waktu saya terpaksa tidak bisa menerima
klien. Saya menjelaskan situasi saya kepada Pak Budi dan mohon maaf
karena tidak bisa menerimanya.

Namun Pak Budi tidak putus asa dan terus ingin membuat janji
bertemu. Beliau berkata bahwa ia telah membaca buku-buku saya,
khususnya Manage Your Mind for Success, Hypnosis: The Art of
Subconscious Communication, dan Becoming a Money Magnet. Selain itu
ia juga telah mengikuti seminar saya beberapa kali. Dan ia yakin
saya bisa membantu menyelesaikan masalahnya.

Saya tetap berusaha secara halus untuk mengatakan bahwa saya tidak
bisa, sampai akhirnya Pak Budi berkata, "Pak Adi, saya yakin Bapak
yang bisa membantu saya. Saya sudah ke terapis lain dan selama dua
tahun saya hanya diberi obat penenang. Saat ini saya depresi berat
dan ada kecenderungan untuk bunuh diri."

Melihat gentingnya situasi ini saya langsung mengatakan, "Pak Budi,
besok kita bertemu di rumah saya jam 16.00 tepat. Saya akan atur
ulang jadwal saya besok sehingga saya bisa ada waktu untuk membantu
Bapak."

Esoknya, Pak Budi datang tepat pukul 16.00. Saya membutuhkan waktu
sekitar 3 jam, mulai interview mendalam hingga aplikasi prosedur
terapeutik untuk membantu Pak Budi mengatasi masalahnya.

Pembaca, jangan khawatir. Dalam artikel ini saya tidak akan
menjelaskan prosedur terapeutik yang saya gunakan karena akan
terlalu teknis. Namun ada hal yang sangat menarik yang bisa kita
petik hikmahnya dari apa yang terjadi pada diri Pak Budi.

Pak Budi sebelumnya tinggal di Medan dan bekerja di suatu
perusahaan. Hidupnya saat itu sudah mapan. Ia sangat bahagia dan
menikmati hidup. Namun satu kejadian mengubah arah hidupnya. Ia
dipindah ke kota Surabaya. Selang beberapa saat kemudian ia
mengalami PHK.

Saat saya tanyakan mengapa dan bagaimana sampai bisa depresi ia
menjawab, "Setelah di-PHK saya merasa bingung. Nggak tahu mau kerja
apa. Saya down dan malu. Saya malu dengan diri saya sendiri. Saya
malu dengan keluarga saya. Saya malu dengan anak dan istri saya.
Saya lalu mencoba berwirawasta. Hasilnya malah tambah terpuruk.
Sudah dua tahun ini toko saya sepi. Saya susah tidur karena pikiran
saya selalu memikirkan hal-hal negatif."

Pembaca, apa yang terjadi pada diri Pak Budi sebenarnya sederhana.
Pak Budi tidak bisa menerima (baca: membenci) keadaannya saat ini.
Yang ia inginkan adalah masa-masa bahagia seperti waktu ia masih
bekerja di Medan.

Saat membantu Pak Budi mengatasi masalahnya saya langsung teringat
ucapan bijak yang dikatakan oleh Y.M. Pannyavaro di atas: "Tujuan
tertinggi bukanlah menghindari kebencian dan mencapai
kebahagiaan. Tujuan tertinggi adalah mencapai kebebasan. Bebas dari
perangkap kebencian dan kebahagiaan. "

"Pak, tahukah Bapak kalau kemarahan dan kebencian itu sangat
berbahaya?" tanya saya.

"Oh, sudah tentu Pak," jawab Pak Budi mantap.

"Nah, tahukah Bapak bahwa kebahagiaan juga berbahaya bagi diri
kita?" kejar saya lagi.

"Maksud Pak Adi? Bukankah yang dicari semua orang adalah kebahagian?
Saya tidak mengerti bagaimana kebahagiaan bisa berbahaya bagi hidup
kita?" jawab Pak Budi bingung.

"Apa yang Bapak rasakan sekarang, depresi, adalah akibat dari
kebahagiaan yang Bapak inginkan. Pikiran Bapak tidak bisa menerima
saat kebahagiaan itu tidak lagi Bapak alami saat ini. Pikiran Bapak
menolak menerima kenyataan bahwa kebahagiaan itu telah berlalu.
Padahal ini hanya bersifat sementara," jawab saya.

Saat kita bertemu dengan sesuatu yang tidak sejalan dengan yang kita
inginkan maka kita biasanya akan merasa tidak senang. Perasan tidak
senang selanjutnya berkembang menjadi jengkel. Jengkel lalu
berkembang menjadi marah dan akhirnya mengkristal menjadi kebencian.
Saat pikiran dipenuhi dengan kebencian maka pikiran akan
sangat "kreatif" untuk mengarahkan persepsi, ucapan, dan perbuatan
atau tindakan untuk bisa memuaskan kebencian. Hasilnya? Sungguh
sangat destruktif.

Hal yang sama juga berlaku saat kita bertemu dengan hal yang kita
inginkan. Saat itu kita merasa senang atau bahagia. Kalau bisa
perasaan senang atau bahagia ini jangan sampai berlalu. Kalau bisa
kita senang atau bahagia terus. Jika kesenangan atau kebahagiaan itu
sampai lepas atau hilang atau tidak lagi kita rasakan maka muncul
perasaan tidak senang. Perasan tidak senang selanjutnya akan berubah
menjadi jengkel, marah, dan akhirnya menjadi kebencian.

Bila ditelaah secara lebih mendalam maka sumber depresi Pak Budi
adalah keinginan untuk bisa terus bahagia. Pak Budi tidak bisa
menerima kalau ia di-PHK dan akhirnya harus menjalani hidup yang
berbeda dengan yang ia jalani sebelumnya.

Lalu apa solusinya? Di luar prosedur terapeutik yang saya lakukan
saya berusaha membantu Pak Budi untuk bisa melihat proses perjalanan
hidupnya dengan perspektif yang berbeda.

Segala sesuatu di dunia ini tidak abadi. Yang abadi hanya satu yaitu
ketidakabadian itu sendiri. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa
ditolak atau dilawan dengan kekuatan apa pun. Pemahaman ini sangat
penting agar kita dapat melihat dan menjalani hidup dengan benar dan
tidak melekat baik pada kebencian maupun kebahagiaan.

Saya lalu menjelaskan pada Pak Budi prinsip kerja pikiran, "Pikiran
hanya bisa memikirkan satu hal dalam suatu saat. Jika Bapak sedih
atau depresi maka yang terjadi adalah layar mental Anda memutar film
sedih. Anda tidak memberi kesempatan pada diri Anda sendiri untuk
bisa merasa bahagia."

"Lha, bagaimana mau senang Pak. Kondisi saya saat ini begini parah.
Dalam waktu beberapa bulan lagi saya harus pindah kontrakan. Istri
saya akan melahirkan anak kedua. Saya benar-benar stress," keluh Pak
Budi.

"Ya itu tadi Pak. Bapak tidak mengizinkan pikiran Bapak untuk
memainkan film yang bisa membuat Bapak senang dan bahagia," jawab
saya.

Saya lalu mengajarkan teknik pemusatan perhatian dan visualisasi
untuk bisa membantu Pak Budi mengarahkan pikirannya.

Hal lain yang saya sarankan untuk Pak Budi lakukan adalah agar ia
menyadari dan menghitung berkah dalam hidupnya saat ini. Saya ingin
Pak Budi mensyukuri apa yang ia miliki saat ini. Tujuannya adalah
untuk bisa menyibukkan pikirannya dengan hal-hal positif. Selain itu
untuk bisa membuatnya "feel good".

Saat diminta untuk menghitung berkah dalam hidupnya saya melihat
perubahan yang cukup signifikan pada raut wajah dan postur tubuh Pak
Budi. Saya kemudian meminta ia mengutarakan hal-hal yang patut ia
syukuri dalam hidupnya, "Saya bersyukur punya istri yang baik, yang
selalu mendukung saya dalam kondisi apa pun. Istri saya tidak pernah
mengeluh mengenai keadaan saya. Istri saya menerima saya apa adanya.
Demikian juga dengan anak saya. Anak saya begitu mencintai saya.
Saya punya keluarga yang sangat mencintai saya."

"Bapak tadi datang naik apa?" tanya saya

"Naik mobil, Pak," jawab Pak Budi.

"Bukan naik angkutan umum atau sepeda motor?" kejar saya.

"Bukan, Pak. Saya naik mobil," jawab Pak Budi.

"Pak, Anda sungguh beruntung lho. Ada sangat banyak orang yang tidak
mampu beli mobil. Ada banyak orang yang kena PHK kemudian
keluarganya berantakan. Ada banyak orang yang tidak punya rumah
tinggal. Ada banyak orang yang satu hari belum tentu bisa makan tiga
kali. Bapak sungguh beruntung dengan kondisi Bapak saat ini," jelas
saya.

"Ya Pak. Saya mengerti apa yang Pak Adi katakan. Yang sulit adalah
mengendalikan pikiran saya Pak. Sulit untuk bisa positif. Saya
selalu berpikir negatif," keluh Pak Budi lagi.

"Oh, untuk itu gampang. Nanti saya ajarkan satu teknik terapi yang
Bapak bisa lakukan sendiri di rumah. Bapak sulit berpikir positif
karena selama dua tahun telah terbiasa melatih pikiran, lebih
tepatnya membiarkan pikiran menjadi terbiasa, memikirkan hanya hal-
hal yang negatif. Pikiran Bapak sudah punya habit memikirkan yang
negatif. Nanti kita latih ulang agar habitnya memikirkan yang
positif," kata saya membesarkan hati Pak Budi.

Seringkali kita benci atau bahagia dengan menggunakan tolok ukur
yang kurang tepat. Kita benci dengan keadaan kita karena kita
membandingkan diri kita dengan orang di atas kita. Kita ingin bisa
seperti orang lain yang hidupnya lebih baik dari kita. Seringkali
kita lupa untuk membandingkan diri kita dengan orang lain yang
kondisinya di bawah kita.

Dua minggu setelah pertemuan dengan Pak Budi saya mendapat telpon.
Pak Budi melaporkan bahwa sekarang ia sudah jauh lebih baik
kondisinya. Sudah lebih tenang dan sudah bisa tidur. Pikirannya
sudah sangat positif. Pak Budi berkata, "Terima kasih Pak Adi atas
waktu dan bantuan yang telah diberikan kepada saya."

"Pak, bukan saya yang membantu atau menyembuhkan Bapak. Saya hanya
bertindak sebagai penunjuk jalan. Bapak yang menyembuhkan diri Bapak
sendiri. Bapak tidak sakit kok. Bapak hanya salah belajar. Pikiran
Bapak kurang tepat dalam memaknai kejadian atau pengalaman hidup.
Terima kasih juga karena Bapak telah memberikan saya kesempatan
berharga untuk belajar," jawab saya mengakhiri pembicaraan.

Pembaca, sebagai penutup, saya ingin menjelaskan satu hal lagi.
Pikiran mempunyai energi. Saat kita memikirkan sesuatu maka kita
memberikan energi pada "buah pikir" itu. Saat Pak Budi saya minta
untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, saat saya meminta ia
mengamati mengapa ia sedih atau depresi maka saat itu "buah pikir
sedih/depresi" mulai kehilangan kekuatan. Energi yang tadinya
digunakan untuk menghasilkan kesedihan kini dialihkan pada kegiatan
mengamati, mengetahui, dan mengerti mengenai kesedihan. Dengan
demikian cengkeraman kesedihan menjadi longgar dan Pak Budi bisa
mengambil napas untuk melakukan hal lain yang lebih konstruktif.

Sumber: Bahaya Kebencian dan Kebahagiaan oleh Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri.

ini hanya sebuah contoh kasus yang mungkin kita bisa temukan kesamaan ceritanya dalam episode hidup kita tapi mungkin dengan versi yang berbeda..hal yang mungkin sering kita lupakan dalam menghadapi hidup ini intinya positive thinking..positive…positive dan positive..plus jangan terlalu mendewakan kebahagian dan terlalu membenci kesengsaraan..semuanya mesti balance..jadi pikiran kita juga akan bisa lebih fair mensikapi segala sesuatu..
semoga kita bisa ya mempraktekannya…Amiiinnnn…

counting the days…

February 26th, 2007 by haleem81

menghitung hari…
1…..2…3….
tak lama lagi..
mantapkan niat dan hati….

Hidup…

February 12th, 2007 by haleem81

LifeHidup adalah rintangan yang harus dihadapi..
perjuangan yang harus dimenangkan…
rahasia yang harus di gali…
dan anugerah yang harus di gunakan..

so..keep trying the best iim…

jangan pernah menyerah pada perjuangan hidup..pada rahasia yang belum terungkap..pada anugerah yang harus digunakan karena tak setiap orang bisa mendapatkan anugerah yang kini kau miliki..
semoga…selalu di ingatkanNya aku tuk selalu mensyukuri segala yang telah Dia anugerahkanNya untukku…
Amiiinnn…
Dan jangan pula mudah putus asa..jangan banyak mengeluh..karena keluhan tak akan lah menyelesaikan segalanya…
Just try…n try..coz every single effort will always lead you closer to the goals of your life…

Jadi inget inspiring words dari temen di ulang tahunku tahun kemaren…
"iim…
Tutup masa lalu dengan istighfar…
Bingkai masa kini dengan syukur..
Retas masa depan dengan berjuang…"
Thanks to izza yang sudah menghadiahkan kata2 indahnya ini untuk ku..


My lovely Mimi

February 5th, 2007 by haleem81

Mimi adalah sumber inspirasi ku…dia adalah sosok tegar dalam menjalani segala kepedihan hidup…sosok sabar dan tulus mendidik dan membesarkan My_lovely_mi2anak2nya..sosok yang selalu memaafkan ku tanpa perlu ku meminta maaf..sosok yang selalu mengingatkanku untuk selalu mengingat Mu dengan pesan tulusnya kemanapun aku akan pergi.."jangan lupa sholat ya im..".."selalu bertawakal dan tabahkan hati karena yang penting adalah maslahat di dunia dan di akherat.." terenyuh aku mengingat kata2 tulusnya itu..betapa tak pernah lupa pula ia selalu mendoakan kami anak2 nya disetiap doa2nya pada Mu.

Ya..Allah…tersadar ku betapa selama ini belum lah bisa ku berbuat banyak tuk membalas ketulusannya yang memang mugkin tak akan pernah sanggup ku balas, karena tak terhitung sudah apa yang telah dia persembahkan untuk ku..kasih sayang, pendidikan, doa2 tulusnya untuk ku yang aku yakin sangat Engkau dengarkan ya Allah dan masih banyak hal2 lainnya yang mungkin selama ini aku tak sadar bahwa itu adalah bentuk sayang dan perhatiannya padaku..

Ya Robb, hambamu ini ingin menjadi sosok yang berarti baginya, memberikan senyum kebahagiaan untuknya..karena aku yakin segala kesuksesan yang kumiliki bukan lah benar2 miliku itu adalah miliknya..karena dia lah yang telah sukses menjadi seorang ibu bagiku..aku ingin seperti mimi ku..menjadi sosok sukses mendidik anak2nya..Amiin..

Mimi akan selalu menjadi sumber inspirasiku..tuk menjadi sosok perempuan yang tegar menjalani hidup..terus belajar tuk berusaha menjadi lebih baik..sosok istri yang sabar dan pendamping  suami yang setia..sosok ibu yang tulus tuk anak2nya.. karena aku yakin..

"kata yang paling indah di bibir manusia adalah kata ibu dan panggilan yang paling indah adalah sebutan ibuku..panggilan itu merupakan suatu kata yang penuh harap dan cinta, kata manis yang keluar dari kalbu yang dalam. Ibu adalah segala-galanya ia merupakan penghibur di kala duka, harapan disaat kita sengsara dan kekuatan di kala kita lemah. Ia adalah sumber cinta, belas kasih, simpati dan maaf..Orang yang kehilangan ibunya, ia kehilangan jiwa sucinya yang selalu meberkahi dan menuntunnya. Segala sesuatu di alam ini mencerminkan ibu karena ibu adalah bentuk asli dari keberadaan sesuatu. Ia adalah semangat abadi penuh keindahan dan cinta.." (kahlil Gibran)

Special Gift

January 13th, 2007 by haleem81

                           

SurDscn1439_3prise….!!!! ternyata kau masih ingat ulang tahun ku..dan tanpa sepengetahuan ku sudah kau siap kan kado spesial untukku..dengan sepucuk surat di dalamnya tertuju "tuk calon istriku.." wah aku sudah punya calon suami ternyata ya..tak terasa…setelah beberapa episode kita lalui akhirnya akan kita mulai lagi episode baru dalam hidup kita "bersama-sama"…entah akan bagaimanakah..kisah kita nantinya..??? semoga kita bisa sama2 belajar tuk menjadi diri yang lebih baik..Amiiin..

Karena Setiap Kita Adalah Mutiara

January 2nd, 2007 by haleem81
Ia nya menjadi indah
Oleh pengorbanan menjemputnya
di palung samudera juga oleh waktu yang membentuknyaMutiara

Seperti dirimu yang juga indah
Oleh pengorbanan yang kau baktikan Pada sesama
Sungguh engkau indah Karena engkau adalah Mutiara

Mutiara.
Awalnya ia bukan apa-apa. Hanya butiran pasir dan debu kotor yang tak
ada harganya. Waktu yang kemudian membentuknya: detik demi detik, di
kedalaman samudera, dalam kegelapan cangkang makhluk-Nya. Dengan proses
yang demikian panjang dan pelan, penuh kesabaran. Pun kemudian,
keindahannya juga tak dapat segera dinikmati begitu saja. Karena ia
harus dijemput di kedalaman lautan, dikeluarkan dari rumahnya yang
kokoh dan dibersihkan, disepuh dan diolah hingga menjadi perhiasan
istimewa. Sungguh sebuah proses yang panjang dan melelahkan, bahkan
bukan tidak mungkin terhenti di tengah jalan.
Mungkin
engkau pernah merasa dirimu bukanlah apa-apa saat ini. Bahkan bisa jadi
lebih dari itu, engkau membenci dirimu sendiri, sebagai manusia tak
berguna, makhluk sia-sia. Begitu banyak kekurangan, begitu banyak
kesalahan dan keburukan. Apalagi ketika kau melihat orang lain yang
nampak begitu sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan, rasanya
engkau makin ingin tenggelam. Mengapa orang lain memiliki begitu banyak
kelebihan sedang aku tak memiliki apa-apa kecuali kekurangan? Mengapa
aku buruk sedang orang lain cakep? Mengapa orang lain berhasil dan aku
selalu gagal? Mengapa orang lain kaya dan aku miskin? Serta beribu
‘mengapa’ lainnya yang akan membuat kita kecewa dan terluka, serta
terpaku pada kekurangan-kekurangan yang kita miliki.
Padahal,
saya percaya, setiap kita tahu dan yakin, bahwa Allah tidak mungkin
menciptakan makhlukNya hanya dengan kekurangan saja atau kelebihan
saja. Hanya dengan madharat saja tanpa manfaat atau sebaliknya. Pun
kita manusia, pastilah memiliki keduanya dalam porsi yang imbang. Dia
yang maha kuasa membekali manusia dengan segala kelebihan, menjadikan
setiap insan memiliki keistimewaan. Hanya saja proses hidup yang kita
alami mungkin telah membuatnya hanya menjadi potensi terpendam, tak
muncul ke permukaan, bahkan mungkin ia, sekalipun ia pernah muncul di
masa kecil kita, kemudian terkubur oleh segala tekanan dan rintangan.
Padahal,
ibarat mutiara, kita tak dapat menjadi berharga begitu saja. Kita butuh
waktu untuk membentuknya. Kita butuh proses panjang untuk mendapatkan
keindahannya. Dan proses ini, butuh ketelatenan dan kesabaran.
Ya,
sesungguhnya setiap kita adalah mutiara yang memiliki pancaran
keindahan kita masing-masing, seperti apapun adanya kita pada awalnya.
Kita hanya harus menyepuhnya untuk membuatnya menjadi berharga. Dan
proses menyepuh ini, banyak cara dan jalannya.
Rintangan, hambatan,
pengalaman, pembelajaran, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang
lain, tidak akan menjadi masalah. Karena pada dasarnya kita adalah
mutiara. Kita hanya harus berusaha semaksimal kita, membuka mata, buka
telinga dan buka hati. Hanya satu awal yang perlu kita lakukan: itikad
dan keyakinan untuk menjadi mutiara. Sungguh saya ingin menjadi
mutiara, melalui berbagi dan berbakti pada sesama. Engkau? Menjadi
mutiara seperti apa yang engkau inginkan?